Sekolah Ayo Sekolah

Sekolah Ayo Sekolah (1)SIAPA bilang sekolah hanya untuk anak-anak sampai usia remaja? Petani pun tak mau kalah ikut bersekolah. Tetapi sekolahnya tidak melulu duduk manis di dalam kelas, seperti sekolah pada umumnya. Melainkan, proses belajar mengajarnya sepenuhnya berada di lapangan, di lahan-lahan pertanian milik petani. Pun tidak ada istilah murid dan guru, yang ada hanyalah peserta dan pemandu.
Ya, begitulah sekolah yang dijalani petani-petani. Mereka mengikuti kegiatan sekolah lapang (SL), seperti terlihat di Desa Gunungtiga Kecamatan Belik. 25 Orang petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Pangudi Luhur tampak bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar di Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) Jagung. Layaknya sekolah, mereka masuk pukul 07.00 WIB dan berakhir pukul 12.00 WIB.
Menurut Koordinator Balai Penyuluhan (BP) Kecamatan Belik, Sri Harsono SP, kegiatan SL-PHT Jagung ini merupakan program dari Direktorat Perlindungan Tanaman Kementerian Pertanian dikawal oleh Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 12 kali pertemuan dengan pemandu Petugas Pengamat Hama Penyakit BP Kecamatan Belik, Agus Suseno dan THL-TBPP BP Kecamatan Belik, Siti Rokhamah.
“Lokasi belajar di dua tempat, di Aula BP Kecamatan Belik dan di lahan sawah seluas 0,25 hektar milik peserta, Suko Haryanto di Dukuh Mremang Desa Gunungtiga,” kata Sri Harsono.
Salah seorang pemandu SL-PHT Jagung, Siti Rokhamah mengatakan, di SL-PHT Jagung ini antara pemandu dan peserta sama-sama saling belajar, dengan cara mengamati dan mencermati setiap materi yang diberikan.
“Di SL-PHT ini cara belajar yang tepat buat petani, dengan metode yang serius tapi santai,” ujarnya.
Siti menjelaskan, pembelajaran SL-PHT Jagung dimulai pukul 07.00 WIB dengan pengamatan di lokasi tanaman selama satu setengah jam. Kemudian pada pukul 08.30 WIB masuk kelas di Aula BP Kecamatan Belik, untuk menuangkan hasil pengamatan pada selembar kertas lengkap dengan gambar berwarna.
“Setiap peserta dibekali buku gambar, alat tulis lengkap dengan pensil warna, spidol dan lainnya,” katanya.
Peralatan ini, lanjutnya, digunakan untuk menggambarkan apa yang mereka lihat setelah melakukan pengamatan di lahan pertanian, baik itu hama, penyakit, keadaan agroekosistem dan lainnya yang terkait dengan materi pembelajaran. Setelah dituangkan dalam bentuk tulisan dan gambar, 25 orang petani yang terbagi menjadi lima kelompok mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas untuk kemudian didiskusikan bersama.
Agar petani selalu semangat dan tidak bosan ketika mengikuti pembelajaran, maka setiap kelompok yang terdiri dari Kelompok Bisma, Bima, Bisi Dua, Arjuna dan Pioneer menciptakan sendiri yel-yel kelompok.
Salah seorang peserta SL-PHT Jagung, Sahlan mengatakan, sangat merasakan manfaatnya mengikuti kegiatan ini. “Kegiatan semacam ini sangat tepat bagi kami petani-petani untuk mendapatkan ilmu yang lebih untuk menunjang kegiatan pertanian. Sebenarnya tidak berbeda dengan kegiatan yang kami lakukan mulai tanam sampai panen, namun di sini diajarkan bagaimana cara tanam yang baik, menghadapi jika tanaman terserang penyakit atau hama sampai cara panen agar hasil yang kami panen tidak rusak,” jelasnya.
Sahlan berharap, kegiatan SL-PHT semacam ini terus berlanjut dengan materi komoditas yang lain, seperti padi, cengkeh dan hortikultura lainnya. “Petani, ayo sekolah!” ajaknya.
Saat ini, di BP Kecamatan Belik selain SL-PHT Jagung juga ada SL-PHT Nanas yang diselenggarakan di Desa Beluk, di Kelompok Tani Husada Dua dengan ketua Rusdi. Berbeda dengan SL-PHT Jagung yang dilaksanakan setiap hari selama tiga bulan, SL-PHT Nanas dilakukan dua minggu sekali setiap hari Rabu di minggu pertama dan keempat, dengan jumlah pertemuan selama 12 kali. Sehingga, SL-PHT Nanas akan selesai selama lebih dari setengah tahun nSiti Rokhamah (THL-TBPP BP Kecamatan Belik)

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Pemalang